Memberi tanpa pertimbangan

Cobalah anda awali suatu hari anda dengan niat untuk  member. Mulailah dengan sesuatu yang kecil yang tidak begitu berharga dimata anda. Mulailah dengan uang receh. Kumpulkan uang receh anda yang tersebar disana sini disudut ruangan kamar anda hanya untuk satu tujuan “diberikan”. Apakah anda sedang berada di Bus Kota yang panas lalu dating seorang pengamen yang bernyanyi dengan suara memekikkan telinga. Atau anda sedang berada di mobil pribadi yang ber-Ac, kemudian datang seorang pengemis untuk meminta-minta. Tak peduli bagaimana pandangan anda tentang kemalasan, kemiskinan dan lain sebagainya. Tak perlu banyak fikir, segera berika satu dua keping kepada mereka.

Barangkali ada rasa enggan dan kesal. Tekanlah perasaan itu seiring dengan pemberian anda. Bukankah tak seorangpun yang ingin memurukkan dirinya menjadi seorang pengemis..???… Ingat…kali ini anda hanya sedang berlatih, member dengan jumlah yang tiada berarti. Rasakan saja, kini mengalir sesuatu dari dalam diri melalui telapak tangan anda. Sesuatu itu bernama kasih sayang

Member tanpa pertimbangan bagaikan menyingkirkan batu penghambat sungai. Arus sungai adalah rasa kasih dari dalam diri. Sedangkan batu adalah kepentingan yang berpusat pada diri sendiri. Sesungguhnya bukan receh atau berlian yang anda berikan. Kemurahan itu tidak terletak di tangan melainkan di hati.

Saat yang paling sempurna

Mungkin ada sesuatu  yang selalu anda ingin kerjakan. Sebuah hasrat untuk mengerjakan sesuatu yang anda cita-citakan. Mengapa anda tidak coba mengerjakannya hari ini ?. Hari ini adalah saat paling sempurna untuk memulainya. Dari semua hari yang tersedia, tidak ada yang lebih tepat dari hari ini.

Anda mengnginkan kesempurnaan ? Berangkatlah dari yang tidak sempurna terlebih dahulu. Perbaiki satu bagian demi satu bagian, maka apa yang anda inginkan akan terwujud di depan mata. Tidak ada karya besar yang muncul dengan sekali duduk

Mengambil langkah pertama tidaklah sulit. Semuanya ada di dalam jangkauan anda, termasuk hari ini. Jadi tunggu apa lagi, yang terpenting adalah anda memulainya sekarang, karena anda adalah pemilik hari ini.

Mengapa tidak besok ? Karena hari esok belum tentu ada.

Ketekunan adalah Kekuatan anda

Apa yang anda raih sekarang adalah hasi dari usaha-usaha kecil yang anda lakukan secara terus menerus. Keberhasilan bukanlah sesuatu yang turun begitu saja. Bila anda yakin pada tujuan dan jalan anda, maka anda harus tetap memiliki ketekunan untuk tetap berusaha. Ketekunan adalah kemampuan anda untuk bertahan di tengah tekanan dan kesulitan. Anda harus tetap mengambil langkah selanjutnya, jangan hanya berhenti di langkah pertama. Memang semakin jauh anda melangkah, semakin banyak rintangan yang menghadang. Bayangkan, andai saja anda kemaren berhenti tentu saja anda tidak berada disini sekarang. Setiap langkah menaikkan nilai diri anda. Apapun yang anda lakukan, jangan sampai kehilangan ketekunan anda. Karena ketekunan adalah daya tahan anda.

Pepatah mengatakan bahwa ribuan kilometer langkah dimulai dengan satu langkah. Sebuah langkah besar, sebanarnya terdiri dari banyak langkah-langkah kecil.  Dan langkah pertama keberhasilan anda harus anda mulai dari rumah anda. Rumah anda yang baik adalah hati anda. Itulah sebaik-baik tempat untuk memulai dan kembali. Karena itu mulailah kemajuan anda dengan memajukan hati anda, kemudian fikiran anda dan usaha-usaha anda. Ketekunan akan hadir bila apa yang anda lakukan benar-benar berasal dari hati anda.

Bersyukurlah pada apa saja

Anda wajib bersyukur apapun yang menimpa anda. Ini bukan masalah keberuntungan. Bersyukur menuntun anda untuk senantiasa menyingkirkan sisi negative dari hidup. Orang lain mungkin mengatakan bahwa anda tidak realistis. Namun sebenarnya sikap anda jauh lebih realistis , yaitu membebaskan diri anda dari kecemasan atas kesalahan

Bersyukur mendorong anda untuk bergerak maju lebih antusias. Tak ada yang meringankan hidup anda selain sikap bersyukur. Semakin banyak anda bersyukur semakin banyak anda menerima. Semakin anda mengingkari semakib berat beban yang anda jejalkan pada diri anda sendiri. Kebanyakan orang lebih terpaku pada kegagalan lalu mengingkarinya. Sedikit sekali yang melihat pada keberhasilan lalu mensyukurinya. Karena, anda tidak akan pernah berhasil dengan cara menggerutu dan berkeluh kesah. Anda berhasil karena anda berusaha. Sedangkan usaha yang anda lakukan karena anda melihat sisi positif. Hanya dengan bersyukurlah sisi positif itu tampak dipandangan anda

SELAMAT HARI IBU

Ketika makan, IBU sering memberikan porsinasinya untuk kita. Sambil memindahkan nasi ke piring kita, ibu berkata “Makanlah nak, IBU tidak lapar”

Ketika kita makan dan lauk hanya tinggal sepotong ikan, maka IBU selalu saja menyodorkan ikan ke piring kita sambil berkata, “Makanlah nak, IBU tidak suka ikan”

Ketika malam hari yang dingin, ibu selalu menunggu kita sampai kita tertidur sambil berkata “Tidurlah nak, Ibu belum ngantuk”

Ketika kita ujian di sekolah, kita selalu ditunggu dengan setia oleh ibu kita sambil membawa minuman dan makanan kita. IBU tahan dibawah terik matahari dengan keringat yang membasahi bajunya, ketika kita keluar dari kelas, IBU menuangkan kita minuman sambil berkata “Minumlah nak, IBU tidak haus”

Ketika kita sudah dewasa dan sudah mulai bekerja dan mempunyai penghasilan, kita sering mengirimi IBU kita duit, tapi IBU kita sering sekali mengembalikan duit kita sambil berkata “Simpan saja duitnya, IBU masih punya duit”

Ketika IBU kita lanjut usia, IBU kita terbaring sakit tak berdaya. Kita dating dengan wajah yang sedih dan berlinang air mata menyaksikan IBU kita yang kita sayangi. Pada saat itu IBU kita melihat kita sambil tersenyum dan berkata “Jangan menangis anakku, IBU tidak kesakitan”

Setelah mengungkapkan kata tersebut IBU kita menutup mata kita untuk yang terakhir kalinya.

Teman-teman..

Dari uraian diatas teman-teman pasti ingin sekali memeluk IBU sambil mengucapkan “Terima kasih IBU”
Coba kita fikir, sudah berapa lama kita tidak menelpin IBU kita, menanyakan kabarnya, menanyakan kegiatannya.
Ingat teman … suatu saat IBU akan mengucapkan kata terakhirnya dan menutup matanya untuk yang terakhir kalinya.

SELAMAT HARI IBU UNTUK IBU KITA YANG TERCINTA

MAKNA IDUL ADHA

Makna dari Iduladha perlu menjadi teladan bagi umat Islam sekarang karena ada unsur keihlasan dan kesabaran yang dapat dijadikan sebagai bekal untuk mengarungi kehidupan yang penuh gangguan dan tantangan.

“Dalam kehidupan masa kini, memperingati Iduladha perlu dijadikan sebagai wahana intropeksi dan refleksi diri umat Islam,” kata Sekretaris Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Drs KH Kamaludiningrat di Yogyakarta, Minggu.

Menurut dia, umat Islam lebih banyak dibelenggu dengan urusan keduniawian sehingga seakan-akan mereka meninggalkan dan melupakan Alquran yang berisi petunjuk bagi umat manusia baik di dunia maupun akhirat.

Ia mengatakan, sekarang banyak umat Islam yang menyimpang dari ajaran Alquran dengan memunculkan aliran sesat, yang sebenarnya bisa dimaknai sebagai kritik kepada Islam. Baca Selanjutnya di MAKNA IDUL ADHA

Islam sebagai Way Of Life

Banyak fihak yang berpendapat bahwa negeri Indonesia, yang kita cintai karena Allah, dilanda musibah demi musibah karena Allah hendak memberikan ”serious warning” (peringatan keras) kepada ummat Islam agar bertaubat dari berbagai maksiat yang kian tampil secara terang-terangan.

Sejujurnya, kemaksiatan yang hadir dewasa ini di Indonesia, negeri berpenduduk muslim terbesar di dunia ini, sudah meliputi segenap aspek kehidupan. Silahkan Anda renungkan…! Kemaksiatan alias kedurhakaan kepada Allah dapat kita temukan dalam aspek ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, media massa, pendidikan, hukum, militer dan pertahanan-keamanan. Segenap aspek kehidupan tersebut telah dikembangkan dengan semangat mengabaikan bagaimana sebenarnya Allah menuntut kita mengelolanya. Manusia menyangka bahwa semua aspek hidup itu boleh dikembangkan seenaknya menurut selera dan hawa nafsu manusia. Meminjam bahasa saudara Adian Husaini beliau menulis sebagai berikut:

”Kita menyaksikan, bagaimana sekelompok orang – dengan alasan kebebasan berekspresi (freedom of expression) — dengan terang-terangan menantang aturan Allah dalam soal pakaian. Mereka menyerukan kebebasan. Mereka pikir, tubuh mereka adalah milik mutlak mereka sendiri, sehingga mereka menolak segala aturan tentang pakaian. Bukankah tindakan itu sama saja dengan menantang Allah: ”Wahai Allah, jangan coba-coba mengatur-atur tubuhku! Mau aku tutup atau aku buka, tidak ada urusan dengan Engkau. Ini urusanku sendiri. Ini tubuh-tubuhku sendiri! Aku yang berhak mengatur. Bukan Engkau!”  Memang, menurut Prof. Naquib al-Attas, ciri utama dari peradaban Barat adalah ”Manusia dituhankan dan Tuhan dimanusiakan!” ((Man is deified and Deity humanised). Manusia merasa berhak menjadi tuhan dan mengatur dirinya sendiri. Persetan dengan segala aturan Tuhan!”

Inilah ciri utama peradaban Barat alias peradaban masyarakat jahiliyah. Kebebasan telah dituhankan sedemikian rupa sehingga Allah di-kerdil-kan sedangkan manusia di-Akbar-kan…! Walaupun kutipan di atas hanya menunjukkan satu contoh saja dari bentuk kemaksiatan, namun kita dapat menemukan bahwa spirit utama ”Manusia dituhankan dan Tuhan dimanusiakan!” berlaku dalam segenap aspek hidup modern. Hal ini sedang terjadi secara global di seluruh penjuru dunia. Indonesia tidak terkecuali. Mengingat bahwa Indonesia dihuni oleh jumlah ummat Islam terbanyak di dunia, maka tanggung-jawab kitapun menjadi lebih besar untuk menunjukkan di hadapan Allah bahwa kita bukanlah ummat Islam yang sekedar bangga dengan kuantitas.

Apalah artinya jumlah yang besar dari populasi muslim dunia bilamana esensi Islam sebagai Way of Life tidak difahami, dihayati, diamalkan apalagi diperjuangkan? Bukankah hakikat seorang berpandangan hidup ”Islam” ialah berserah diri kepada kehendak Allah? Bukankah misi utama da’wah Islam ialah ”membebaskan manusia dari penghambaan sesama manusia untuk menjadi hamba Allah semata”?

Saatnya KTP Nasional

Tanda pengenal yang lazimnya kita sebut Kartu Tanda Penduduk atau KTP merupakan identitas kependudukan kita yang menjelaskan tempat domisili kita. Biasanya KTP tersebut dikeluarkan oleh Dinas catatan Sipil melalui kantor desa atau kelurahan.

Lazimnya.. setiap individu hanya memiliki 1 KTP atau singkatnya 1 orang per KTP. Namun faktanya adalah bahwa tidak sedikit  yang memiliki lebih dari 1 KTP. Ini disebabkan karena pembuatan KTP dilakukan per setiap desa dimana dia tinggal. Sehingga mereka yang suka berpindah-pindah tidak sulit untuk membuat 2 KTP atau lebih.

Jaringan teroris yang baru-baru ini ditangkap contohnya. Mereka masing-masing memiliki lebih dari 1 KTP. Sehingga memudahkan gerak-gerik perpindahan mereka dari 1 tempat ke tempat lain.

Nah.. kenapa Pemerintah di zaman yang sudah modern ini tidak memikirkan untuk membuat KTP yang berlaku nasional. Hal ini tentunya lebih terzamin keabsahan perorang hanya bisa memiliki 1 KTP. Karena sudah terkoneksinya jaringan identitas individu seluruh Indonesia.

Dengan terungkapnya teroris yang memiliki lebih dari 1 KTP saya jadi ragu nih… Apa betul penduduk Indonesia lebih dari 200 Jt jiwa. Jangan-jangan banyak dari penduduk Indonesia yang memiliki 2 KTP atau bahkan lebih. Anda bayangkan saja jika seperempat penduduk yang memiliki 2 atau lebih KTP berarti jumlah penduduk Indonesia akan bertambah sekitar 75 jt jiwa tanpa kelahiran. Bisa anda bayangkan….

Pamplet Bertuliskan Kejujuran

Kejujuran merupakan sesuatu yang amat dibutuhkan dalam menjalankan roda organisasi. Kejujuran merupakan Roh dari sebuah keberhasilan baik secara individu terlebih-lebih institusi atupun organisasi.

Nah… ada yang aneh dengan bangsa Indonesia ini. Beberapa hari ini kami keliling-keliling melihat perkantoran pemerintah. Berbagai macam bentuk dari kantor pemerintah tersebut. Ada yang mempunyai taman tapi banyak juga yang tidak. Tapi itu bukan menjadi perhatian utama kami. Perhatian utama kami tertuju pada pamphlet yang bertulisan “SAATNYA MENGUTAMAKAN KEJUJURAN”

Pamplet tersebut sangat menyita perhatian kami, sampai-sampai teman saya berkata “Ternyata selama ini mereka tidak jujur”. Memang kalau kita membaca kata-kata yang tercantum di pamphlet tersebut ada tersirat bahwa selama ini mereka-mereka yang berada didalam tersebut tida jujur. Karena kata-kata “SAATNYA” itu berarti waktu yang ditunggu untuk kegiatan sesuatu atau untuk melaksanakan sesuatu. Sama seperti ketika kita membaca kata-kata “SAATNYA RAMADHAN TIBA”.

Semoga pendapat saya ini salah…. Bagaimana dengan pendapat anda….???

Mereka hanya anak-anak

Menarik juga komentar kak Seto di Televisi tentang anak-anak yang mempunyai orang tua Teroris. Kak Seto berharap semuanya, pemerintah, Masyarakat, Tokoh masyarakat agar mengedepankan kepentingan mereka sebagai anak-anak. Karena mereka sendiri juga tidak tahu apa-apa.

Saya setuju dengan itu. Toh kita pernah melihat bagaimana Pemerintahan Orde Baru mengekang gerak langkah anak-anak yang mempunyai orang tua PKI. Merekea tidak bias menjadi Pegawai Negeri, bahkan pihak Swastapun dihimbau untuk tidak menerima mereka sebagai pekerja. Sehingga menutup kran kreatifitas mereka sebagai anak yang masih punya harapan masa depan.

Bercermin dari itu sudah selayaknyalah kita tidak mengulangi kesalah yang sama untuk kedua kalinya. Karena hal ini sangat merugikan mereka. Mereka juga tidak menginginkan orang tua mereka menjadi teroris dan mereka juga sama seperti kita yang masih mempunyai harapan dan masa depan. Singkatnya janganlah melabeli mereka dengan label “Anak Teroris”. Cukup kisah pilu para anak-anak berorangtuakan PKI menjadi pelajaran berharga bagi kita…   Setuju…